Maret Samuel Sueken mendorong hilirisasi kemampuan industri agar proyek strategis nasional semakin banyak dikerjakan dengan kemampuan bangsa sendiri.
JAKARTA, INTI FAKTA NUSANTARA — Arah hilirisasi industri Indonesia mendapat sorotan dari praktisi senior Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC), Maret Samuel Sueken.
Komisaris Independen PT Rekayasa Industri (Rekind) sekaligus Ketua Umum JPKP tersebut menilai hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri. Menurutnya, kemampuan untuk membangun fasilitas tersebut juga harus dikuasai oleh industri nasional.
"Hilirisasi tidak boleh hanya memindahkan produk. Hilirisasi harus memindahkan kemampuan," tegas Maret.
Ia menilai Indonesia jangan sampai berhasil mengembangkan industri hilir mineral, tetapi pada saat yang sama masih harus mengimpor kemampuan engineering, technology know-how serta Transport & Installation.
• Prof Sutan Nasomal Dorong Pemerintah Terbuka terhadap Kritik dan Saran Masyarakat
• Sutan Nasomal Harap Aspirasi Rakyat Jadi Dasar Pengelolaan SDA Indonesia
Penguasaan Industri Tidak Cukup dari TKDN
Maret menyebut sejumlah proyek strategis nasional masih banyak melibatkan perusahaan global. Ia menyebut McDermott, Saipem, Chiyoda, JGC dan Hyundai sebagai pemain yang selama ini memiliki kemampuan besar dalam proyek-proyek industri.
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan belum cukup kuatnya perusahaan nasional yang memiliki kemampuan EPCC dan T&I secara terintegrasi.
Ia menggunakan istilah "Londo Ireng" untuk menggambarkan kondisi ketika proyek berada di Indonesia, sementara pemilik dan modalnya dapat berasal dari pihak nasional, tetapi kemampuan industrial yang digunakan masih bergantung pada pihak luar.
Tiga Pilar Kedaulatan Industri
Maret menjelaskan kedaulatan industri melalui tiga komponen yang ia ibaratkan sebagai Otak, Tangan dan Kaki.
Otak adalah engineering, teknologi, intellectual property dan project management. Penguasaan bagian ini menentukan kemampuan bangsa dalam merancang serta mengelola proyek.
Tangan merupakan fabrication dan manufacturing. Kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana rancangan diwujudkan menjadi produk melalui fasilitas fabrikasi, workshop dan supply chain.
Sementara Kaki adalah logistics dan Transport & Installation. Kemampuan tersebut mencakup pengangkutan, heavy lifting, jetty dan marine logistics.
Rekind Dinilai Bisa Diperkuat
Maret menilai PT Rekayasa Industri memiliki modal penting untuk dikembangkan menjadi Global EPCC Player. Rekind disebut memiliki pengalaman sekitar 45 tahun serta sumber daya manusia, database engineering dan sistem manajemen proyek.
Namun, penguatan menurutnya perlu dilakukan pada aspek "Tangan dan Kaki", termasuk melalui integrasi dengan aset strategis BUMN.
Ia menyebut Pelindo dengan infrastruktur pelabuhannya, PT PAL dengan kemampuan galangan, serta BUMN karya sebagai bagian yang dapat diintegrasikan dalam membangun kemampuan industri nasional.
"Kantong kiri dan kantong kanan sama-sama Merah Putih. Jika owner-nya, modalnya, asetnya, pasarnya, dan SDM-nya Merah Putih, mengapa kemampuan EPCC-nya tidak Merah Putih?" katanya.
Empat Tahap Transformasi
Menurut Maret, Rekind membutuhkan transformasi strategis yang tidak berhenti pada penyelamatan keuangan. Ia menawarkan empat tahapan, yakni GET OUT, GET HEALTHY, GET GROWING dan GO GLOBAL.
Ia juga berharap proyek-proyek nasional tidak hanya menghasilkan infrastruktur atau produk, tetapi meninggalkan pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia yang memiliki sertifikasi berstandar global.
"Setiap proyek nasional harus menjadi School of Excellence," ujarnya.
Momentum hilirisasi mineral, kedaulatan energi, transisi energi dan ketahanan pangan dinilai dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membangun kemampuan industri nasional secara lebih mandiri.
Catatan Redaksi: Inti Fakta Nusantara menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Faaz
Editor: Han
